Hidayah Islam sebagai Hak Prerogatif Tuhan Siapa, Mengapa, dan Bagaimana Mereka Menerima Islam (The True Story of Muallafs)

18/08/2017

Hidayah keislaman merupakan hak prerogatif Tuhan. Siapun tidak akan bisa memberi hidayah kecuali Allah. Sekalipun para Nabi tidak diberi kewenangan dalam hal ini. Para Nabi hanya menunjukkan jalan, memberikan mencerahan, dan mengajarkannya bagaimana mendapat hidayah keislaman. Dalam sebuah kisah disebutkan bahwa Nabi Muhammad s.a.w., menginginkan pamannya memeluk Islam ternyata tidak mampu mengislamkannya. Apalagi manusia biasa, namun demikian jika Allah menghendakinya untuk memberi hidayah keislaman maka jalannya menjadi mudah melalui berbagai cara Allah menunjukkannya terkadang juga tak terduga.

Menurut Zuhaili (2013: 36), manusia diberi lima macam hidayah oleh Allah, yaitu (1) hidayah ilham fitrah; (2) hidayah indera; (3) hidayah Aqal; (4) hidayah taufik; dan (5) hidayah agama. Hidayah agama (Islam) sebagai benteng untuk menjaga manusia dari kesesatan. Hidayah ini merupakan cara Allah membimbing manusia ke jalan yang lurus bagi yang dikehendaki-Nya. Firman Allah dalam Al-Qur`an telah mengisyaratkan hidayah tersebut dalam banyak ayat antara lain: “Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki…” (Q. S. 2, al-Baqarah: 272). “… mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah …” (Q. S. 6, al-An`am: 90). Dengan demikian hidayah keislaman menjadi sesuatu yang bersifat eksklusif karena tidak setiap orang mendapatkannya. 

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *