Etika Lingkungan “Perspektif Konservasi Wilayah Pesisir dan Masyarakat Nelayan”

30/06/2015

Beberapa literature yang ada, selama berabad-abad, manusia berikut segala isi lingkungan hidup terus tumbuh dan berkembang. Kalaipun ada persoalan lingkungan hidup, namun persoalannya tidak gawat seperti sekarang ini, karena ketidak-seimbangan yang ada dapat dipulihkan kembali oleh system lingkungan hidup sendiri.

Sustainable Development (pembangunan berkelanjutan) yang akhir-akhir ini banyak ditulis oleh pakar-pakar lingkungan oleh sebagian pejabat, nampaknya patut menjadi renungan bersama. Pembangunan yang tidak merusak dalam arti tetap memperhatikan pelestarian lingkungan untuk generasi mendatang, selayaknya menjadi sikap setiap orang. Hampir setiap orang sependapat dengan ungkapan, bahwa kehidupan cucu kita harus jauh lebih baik dari keadaan kita sekarang, walaupun harus diakui bagi kalangan tertentu terutama bagi penganut pembangunan berkelanjutan, karena bagi mereka alam adalah segala-galanya bagi manusia. Dalam arti dapat dimanfaatkan sesuai kehendak dirinya.

Masyarakat nelayan yang memanfaatkan pesisir pantai dan laut yang kaya akan sumber daya alamnya sebagai tempat bermukim, sekaligus sebagai tempat segala aktifitas termasuk sebagai sumber mata pencaharian. Secara umum uang dimaksud dengan pesisir pantai adalah suatu wilayah peralihan antara dataran dan lautan. Jika ditinjau dari garis pantai (coastline), maka suatu wilayah pesisir memiliki dua macam batas (boundries) yaitu batas sejajar garis pantai (longshore) dan batas yang tegak lurus terhadap garis pantai (crosshore). Selain menyediakan protein hewani, wilayah pesisir pantai (terutama di Indonesia), memiliki fungsi antara lain; transportasi dan pelabuhan, kawasan industri, agribisnis, agroindustri, rekreasi dan pariwisata, kawasan pemukinan, serta pembuangan limbah.

No Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *