Pengembangan Industri & Ragam Gaya Busana Muslim
Agama Islam / 19/12/2019

Berbusana sesuai syariah berarti menggunakan hijab yang terdiri dari khimar atau kerudung panjang menutup dada. Jilbab atau  busana panjang yang menjuntai hingga semata kaki. Kebutuhan muslimah terutama akan pakaian selain untuk menutupi auratnya juga untuk melindungi dari cuaca dan untuk keindahan tentunya. Ragam busana Muslimah mengacu pada batasan tadi. Tentu saja busana Islami boleh bervariasi disesuaikan dengan budaya masing-masing tetapi tidak mengandung tabarruj, atau berlebih-lebihan. Hal ini bisa diartikan bahwasanya muslimah diperbolehkan tampil busanaable, asal sesuai syariah. Pengembangan industri dan ragam gaya busana muslim di Indonesia dapat  menciptakan hal yang inovatif menjadi sebuah karya yang unggul melalui desain produk dan jahitan yang bervariasi, unik, eksklusif,  nyaman dan berkualitas. Kegiatan tersebut melahirkan peluang usaha dalam memenuhi kebutuhan untuk meningkatkan volume penjualan dengan menggunakan strategi networking dan kerjasama dalam meningkatkan akses marketingnya. Strategi tersebut diterapkan bertujuan untuk mengembangkan industri, ragam dan gaya busana muslim Indonesia yang mendunia.

Toleransi dalam Beragama
Agama Islam / 08/11/2019

Radikalisme merupakan ideologi yang sangat berbahaya bagi bangsa yang plural. Kemunculan ideologi radikalisme akan mengakibatkan bangsa yang memiliki pluralitas etnis, agama dan kepercayaan sulit membangun dirinya. Sebagai bangsa yang plural, Indonesia menyadari bahayanya radikalisme. Oleh karena itu, sejak awal pendiriannya, bangsa Indonesia sudah mengenal “Bhinneka Tunggal Ika” sebagai semboyan bangsa untuk menangkal radikalisme. Meskipun secara umum, ideologi radikalisme tidak memiliki akar yang kuat dalam budaya bangsa, akan tetapi kasus-kasus radikalisme seringkali bermunculan. Bahkan menggiring opini internasional bahwa Indonesia punya masalah serius terkait persoalan radikalisme. Oleh karena itu, diperlukan upaya untuk menangkal radikalisme dan merawat toleransi. Buku ini disusun untuk membahas masalah toleransi dalam Islam dan realitasnya di lapangan. Dari buku ini bisa disimpulkan bahwa toleransi adalah bagian yang tidak terpisahkan dari Islam dan pemeluknya. Oleh karena itu, kekhawatiran terhadap radikalisme dalam Islam sangat tidak beralasan. Wallahu A’lam.

Metodologi Penelitian Hukum Islam Berbasis Metode Ushul Fiqh
Agama Islam / 25/03/2019

Ilmu dan pengetahuan merupakan proses olah fikir akal dan hati manusia yang dihasilkan dari mentadaburi berbagai obyek benda konkrit yang tersebar di alam semesta.  Perbedaan mendasar antara ilmu dan pengetahuan yaitu: ilmu adalah susunan dari pengetahuan yang diperoleh melalui serangkaian penelitian dengan metode ilmiah secara normatif maupun empiris. Sedangkan pengetahuan adalah semua hal yang mudah diketahui oleh setiap manusia tanpa harus melalui penelitian. Penelitian adalah cara kerja pikiran untuk mengkaji, mencari, menyelidiki, menemukan dan menghasilkan sesuatu dari hal yang bersifat abstrak menjadi pengetahuan dan ilmu berupa konsep atau teori. Konsep penelitian dalam bentuk metodologi penelitian dapat digunakan oleh berbagai disiplin ilmu tertentu untuk mengungkap rahasia sunnatullah. Namun khusus dalam penelitian hukum Islam selain menggunakan metode-metode yang umum wajib digunakan juga metode ushul fiqh. Perpaduan kedua kelompok metode penelitian itu dapat   mengungkap rahasia kalamullah sehingga hukum Islam yang bersumber dari Al-Quran, As-Sunnah, dan Ijtihad para ulama dapat menghasilkan hukum Islam yang dapat diimplementasikan secara dinamis sesuai dengan kebutuhan zaman. Link Download: Buku Metodologi Penelitian Hukum Islam Berbasis Metode Ushul Fiqh 

Tuntutan Salat, Zikir, dan Doa (Disertai Alasan-Alasannya)
Agama Islam / 03/09/2018

TUNTUNAN SALAT, ZIKIR DAN DOA. Dalam buku ini dijelaskan dasar hukum berakitan dengan salat, zikir dan do’a. Tujuannya untuk memahami dasar hukum ibadah dan membangkitkan semangat dalam melaksanakan ibadah salat, zikir dan do’a sebagai wujud ketaatan kepada Allah swt. Di masyarakat sering terjadi perbedaan pendapat karena kesalahfahaman dalam praktek ibadah ketika salat, zikir, dan do’a. Perselisihan itu terkadang mengakibatkan terjadinya gesekan dan perseteruan yang tak kunjung selesai. Misalnya, ketika suatu kelompok masyarakat melaksanakan salat, berzikir, dan berdo’a tiba-tiba ada kelompok lain yang menyalahkan dan membid’ahkan bahkan ada yang sampai mengkufurkannya. Bagi kelompok yang terbiasa melaksanakan ibadah itu, mereka tidak peduli dengan tuduhan bid’ah, bahkan berargumen dengan kata-kata sinis, “jika perbuatan ini bid’ah, buktikan mana dalilnya dalam Al-Qur’an dan sunnah maupun pendapat para ulama”. Terkadang yang  membid’ahkan itu tidak dapat mengemukakan alasan-alasannya seperti yang diharapkan kelompok yang sudah terbiasa melaksanakan ibadah itu. Banyak diantara sesama muslim menyalahkan satu sama lainnya dalam beribadah. Kenapa tidak menyalahkan kepada orang yang belum beribadah sebagai da`wah? 

Peran Antagonis Iblis dalam Mengoda Manusia
Agama Islam / 22/03/2018

Terminilogi iblis, jin dan syetan dalam al-Qur`an memiliki makna sebagai thagut yang memiliki sikap, sifat, perilaku, karakter sombong dan durhaka terhadap Allah subhanahuwata`ala. Demikian pun persepsi manusia terhadap makhluk iblis ini cenderung pada kejahatannya. Kesombongan iblis terhadap Allah ketika menolak perintah bersujud kepada manusia pertama yaitu Adam, a.s. Berawal dari peristiwa inilah iblis mengambil “peran antagonis” untuk menggoda manusia agar berbuat kejahatan di planet bumi sejak kelahiran dan kematian manusia. Antagonis diartikan sebagai “orang” yang suka menentang dan melawan atau bergerak dan bekerja berlawanan; atau bertolakbelakang”. Peran antagonis iblis terhadap manusia dinyatakan oleh iblis secara langsung dihadapan Allah. Apa kata iblis: “aku lebih baik daripada manusia; Engkau (Tuhan) ciptakan aku dari api, sedangkan manusia Engkau ciptakan dari tanah”. Kemudian iblis berkata lagi: “beri tangguh aku sampai waktu manusia dibangkitkan, lalu Allah menjawab sesungguhnya kamu (iblis) termasuk yang diberi tangguh”. Iblis pun menantang Allah dengan berkata: Engkau telah menghukumku tersesat, aku benar-benar akan menggoda dan menjerumuskan manusia dari jalan Engkau yang lurus. Kemudian aku akan mendatangi manusia dari depan dan belakang; dari kiri dan kanan sehingga manusia menjadi kufur kepada-Mu. Itulah sebabnya Allah mengingatkan kepada manusia: “sesungguhnya syetan itu musuh laten manusia”. Siapa saja yang menjadikan syetan menjadi pelindung selain Allah…

Tafsir Al-Badar
Agama Islam / 14/02/2018

Al-Qur’an sebagai sumber dasar ilmu-ilmu ke-Islaman yang isinya memuat berbagai disiplin ilmu pengetahuan sehingga perlu dipelajari oleh kaum akademisi salah satunya melalui kajian tafsir. Kajian tafsir Al-Quran merupakan salah satu komponen proses pembelajaran  di setiap lembaga pendidikan Islam telah banyak menawarkan konsep dan  ide-ide yang bersumber dari Al-Qur’an. Kajian tafsir Al-Qur’an tidak hanya membicarakan gagasan-gagasan yang lepas dari konteks keislaman, tetapi sebaiknya kajian harus menjadi sumber aspirasi dan inspirasi untuk pengembangan para siswa-mahasiswa, santri-mahasantri serta para jamaah lainnya di lembaga di berbagai lembaga pendidikan secara khusus. Para siswa-mahasiswa, santri-mahasantri wajib memiliki kecerdasan dan jiwa penuh keyakinan yang mendalam di bidang ajaran keislaman, sehingga seluruh lembaga pendidikan Islam termasuk pondok pesantren dapat menghadirkan para lulusannya yang menguasai ilmu-ilmu keislaman dari sumber utamanya. Dari sekian banyak kajian tafsir, salah satunya yaitu Tafsir Al-Badar. Nama Tafsir Al-Badar diambil dari nama-nama yang memiliki aspek historis yaitu Kisah Perang Badar. Perang Badar merupakan sejarah keemasan/kemenangan umat Islam yang telah diabadikan dalam Al-Quran. Sebagai harapan kejayaan dan kemenangan umat Islam masa depan yang gemilang, maka kemenangan perjuangan  Rasulullah diperang Badar harus dijadikan inspirasi dan aspirasi bagi para pemangku kebenaran Islam. Tafsir Al-Badar ini dapat digunakan pada mata kuliah Tafsir pada program S1, S2, dan S3 sebagai…

Hidayah Islam sebagai Hak Prerogatif Tuhan Siapa, Mengapa, dan Bagaimana Mereka Menerima Islam (The True Story of Muallafs)
Agama Islam / 18/08/2017

Hidayah keislaman merupakan hak prerogatif Tuhan. Siapun tidak akan bisa memberi hidayah kecuali Allah. Sekalipun para Nabi tidak diberi kewenangan dalam hal ini. Para Nabi hanya menunjukkan jalan, memberikan mencerahan, dan mengajarkannya bagaimana mendapat hidayah keislaman. Dalam sebuah kisah disebutkan bahwa Nabi Muhammad s.a.w., menginginkan pamannya memeluk Islam ternyata tidak mampu mengislamkannya. Apalagi manusia biasa, namun demikian jika Allah menghendakinya untuk memberi hidayah keislaman maka jalannya menjadi mudah melalui berbagai cara Allah menunjukkannya terkadang juga tak terduga. Menurut Zuhaili (2013: 36), manusia diberi lima macam hidayah oleh Allah, yaitu (1) hidayah ilham fitrah; (2) hidayah indera; (3) hidayah Aqal; (4) hidayah taufik; dan (5) hidayah agama. Hidayah agama (Islam) sebagai benteng untuk menjaga manusia dari kesesatan. Hidayah ini merupakan cara Allah membimbing manusia ke jalan yang lurus bagi yang dikehendaki-Nya. Firman Allah dalam Al-Qur`an telah mengisyaratkan hidayah tersebut dalam banyak ayat antara lain: “Bukanlah kewajibanmu menjadikan mereka mendapat petunjuk, akan tetapi Allah lah yang memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki…” (Q. S. 2, al-Baqarah: 272). “… mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah …” (Q. S. 6, al-An`am: 90). Dengan demikian hidayah keislaman menjadi sesuatu yang bersifat eksklusif karena tidak setiap orang mendapatkannya.